Connect with us

Wisata Aceh

Museum Tsunami Aceh, Sejarah 2004 Silam

Banda Aceh

Museum Tsunami Aceh, Sejarah 2004 Silam

Kota Banda Aceh kini menjelma menjadi salah satu tujuan wisata yang wajib dikunjungi. Apalagi sejak tahun 2013 lalu, pemerintah mulai gencar menjalankan program visit Aceh untuk menarik wisatawan luar daerah hingga mancanegara. Begitu banyak tempat wisata menarik yang bisa dituju wisatawan, mulai dari wisata sejarah, religi, hingga kuliner. Objek wisata yang kini menjadi salah satu ikon Kota Banda Aceh adalah Museum Tsunami Aceh.
 
Museum Tsunami Aceh merupakan sebuah museum yang dibangun oleh Badan Rekonstruksi dan Rehabilitas NAD Nias. Tak hanya megah, dan museum yang didesain oleh walikota Bandung, Ridwan Kamil ini memiliki desain yang unik, serta fungsi beragam. Selain menjadi sebuah monumen untuk mengenang peristiwa tsunami, museum juga berfungsi sebagai wisata edukasi serta escape building jika dimasa depan tsunami kembali terjadi.

Museum Tsunami Aceh merupakan tempat wisata yang terletak di Banda Aceh, dibangun untuk mengenang terjadinya bencana tsunami pada tahun 2004 lalu. Selain itu, museum memiliki fungsi lain sebagai media edukasi tentang bencana, serta tempat penyelamatan jika dimasa depan tsunami datang kembali.

Secara geografis, Museum Tsunami Aceh terletak pada Jalan Sultan Iskandar Muda, Kecamatan Baiturrahman, Kota Banda Aceh, Aceh. Lokasi museum ini juga sangat strategis, berada di jantung Kota Banda Aceh yang berjarak hanya 500 meter dari Masjid Raya Baiturrahman. Wisatawan bisa menggunakan kendaraan umum yang ada di Banda Aceh, atau juga kendaraan pribadi untuk berkunjung ke museum.
 
Tak hanya memiliki nilai sejarah dan mengenang bencana tsunami, Museum Tsunami Aceh ini memiliki berbagai filosifi yang terkandung dibeberapa bagian bangunan museum. Jika dilihat dari samping, maka museum akan nampak seperti sebuah kapal besar yang seolah menjadi tempat penyelamatan. Namun jika dilihat dari atas, bangunan ini didesain untuk merefleksikan gelombang tsunami.
 
Museum yang menjadi kebanggaan masyarakat Aceh ini dibangun pada tahun 2007 diatas lahan seluas 10.000 meter persegi. Dalam proses pembangunannya, diadakanlah sebuah sayembara untuk mendesain Museum Tsunami Aceh. Ridwan Kamil yang kala itu masih menjadi dosen Arsitektur di ITB, berhasil menyingkirkan puluhan kontestan lainnya serta berhak mendapat hadiah senilai Rp. 100 juta.
 
Museum yang memiliki luas bangunan 2.500 meter persegi ini menelan biaya mencapai Rp. 140 milliar dalam pembangunannya. Pada tahun 2009, proses pembangunan selesai serta diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhono namun baru dibuka untuk umum pada 8 Mei 2011.

Pesona Museum Tsunami Aceh

Jika dilihat dari luar bangunan Museum Tsunami Aceh nampak sangat megah, dihiasi dengan ornamen yang melambangkan tarian saman. Desain dinding luar sendiri memiliki filosofi hubungan antara manusia terhadap Islam. Banyak yang mengetahui, bahwa desain dasar museum ini mengadopsi Rumoh Aceh.
Wisatawan bisa melihatnya pada lantai satu bangunan, yang didesain mirip seperti rumah panggung. Museum Tsunami Aceh sendiri memiliki 4 lantai, yang setiap lantainya memiliki fungsi, serta filosifi berbeda. Saat memasuki museum, wisatawan harus melewati sebuah lorong yang dikenal dengan Space of Fear.
Lorong ini memiliki panjang mencapai 30 meter serta tinggi 23 meter, yang menggambarkan tingginya gelombang tsunami kala itu. Kedua sisi dinding dialiri air, serta lorong ini dibuat cukup sempit, dengan cahaya remang-remang yang menggambarkan kepanikan dan rasa takut masyarakat Aceh kala tsunami terjadi.
 
Setelah melalui lorong tersebut, wisatawan akan dibawa ke Space of Memory atau yang juga disebut Memorial Hall. Diruangan yang terdapat di dalam Museum Tsunami Aceh ini wisatawan bisa melihat foto-foto serta gambar ditampilkan pada monitor. Gambar dan foto-foto ini memperlihatkan betapa dahsyatnya tsunami yang meluluh lantahkan bumi Serambi Mekkah kala itu. Pengunjung seolah akan dibawa kembali ke masa lalu, dan mengingat tentang peristiwa yang melanda Aceh.
 
Selanjutnya, wisatawan akan memasuki Space of Sorrow atau juga dikenal dengan The Light of God. Ruangan yang berbentuk seperti cerobong ini, memiliki ketinggian sekitar 30 meter serta di dindingnya terdapat nama orang-orang yang menjadi korban tsunami Aceh. Di dalam ruangan ini cukup gelap, dan terdapat sebuah kaligrafi yang berbentuk tulisan Allah, serta sepercik cahaya yang menyorotinya.
 
Ruangan ini mengandung berbagai macam filosofi dan makna serta memiliki nilai religius mengenai hubungan manusia dengan Tuhan. Selain itu, ruangan ini juga menggambarkan rakyat Aceh yang kala itu tengah berdoa meminta pertolongan dari Yang Maha Kuasa. Selanjutnya, di Museum Tsunami Aceh ini wisatawan akan dibawa keruangan Space of Confuse.
 
Di ruangan Space of Confuse ini menggambarkan kebingungan, kepanikan, serta keputusasaan yang dirasakan oleh orang-orang kala itu. Terlihat dari desain ruangan yang dibentuk berkelok-kelok, memutar, gelap dan tidak rata. Usai melewati ruangan ini, wisatawan akan dibawa untuk menuju ke Space of Hope atau jembatan harapan.
Di jembatan harapan ini, wisatawan bisa melihat 53 bendera negara yang terdapat di langit-langit Museum Tsunami Aceh serta batu-batu yang terdapat dipinggir kolam tepat dibawah jembatan. Di bendera dan batu tersebut, juga tertulis kata Damai dalam bahasa negara masing-masing. Hal ini merupakan bentuk rasa terima kasih, kepada negara-negara yang telah memberikan bantuan dalam proses rekonstruksi dan pemulihan pasca tsunami.
 
Setelah melewati jembatan, wisatawan akan disuguhi dengan sebuah film pendek yang menceritakan ketika terjadi tsunami serta pasca tsunami. Wisatawan juga bisa melihat adanya artefak-artefak serta miniatur. Seperti jam Masjid Raya Baiturrahman yang jatuh dan mati saat kejadian gempa, dan miniatur tentang orang-orang yang lari lalu lalang ketika melihat gelombang tsunami setinggi pohon kelapa.

Fasilitas di Museum Tsunami Aceh

Pada Museum Tsunami Aceh ini memiliki fasilitas yang cukup lengkap, terdiri dari fasilitas umum untuk wisatawan serta media pembelajaran tentang bencana. Dimuseum ini telah tersedia fasilitas seperti toilet pria dan wanita, tempat parkir yang cukup luas, musholla di lantai 3, serta toko souvenir yang menjual berbagai pernak pernik seperti kaos khas Aceh dll.
 
Pada lantai 3, Museum Tsunami Aceh juga dilengkapi dengan ruang geologi serta perpustakaan. Di ruang geologi ini wisatawan akan mendapatkan pengetahuan tentang kebencaan yang disajikan dengan alat simulasi modern. Seperti sejarah serta potensi tsunami di bumi, simulali meletusnya gunung berapi, simulasi gempa yang bisa ditentukan skala richternya serta simulasi 4 dimensi tentang kejadian gempa dan tsunami.
Pada lantai akhir, yaitu di lantai 4 museum memiliki fungsi sebagai tempat penyelamatan ketika tsunami terjadi di masa depan. Namun wisatawan tidak diperkanankan masuk, karena memang ruang ini tidak dibuka untuk umum. Hanya jika keadaan darurat, ruang tersebut akan dibuka. Selain itu, dimuseum ini wisatawan juga bisa mencoba aneka jajanan khas Aceh seperti gula tarik, seupet kuet, dan keukarah.
 
Usai melihat kemegahan dan keindahan Museum Tsunami Aceh wisatawan bisa berkeliling Banda Aceh untuk berwisata kuliner. Karena disekitar museum ini terdapat banyak sekali makanan khas Aceh yang menggugah selera. Jika ingin menginap, pengunjung juga dapat memilih hotel dan penginapan yang ada dipusat kota Banda Aceh.
 
Berkunjung ke museum yang menjadi kebanggaan masyarakat Aceh ini memang sangat menarik dan patut dicoba. Berikut beberapa kegiatan yang bisa kamu lakukan ketika berada di Museum Tsunami Aceh.

Menikmati Keindahan Museum

Jika kamu berkunjung ke Museum Tsunami Aceh, maka kamu akan dibawa kembali ke masa lalu seolah merasakan bencana yang sempat melanda Serambi Mekkah pada tahun 2004 lalu. Museum ini memang memiliki desain yang sangat menarik, serta informatif. Makna serta filosofi yang terkandung didalam museum, dapat disampaikan dengan baik melalui desain ruang-ruang yang ada dimuseum.
 
Dimuseum ini kamu akan dibawa ke ruang seperti Space of Fear, The Light of God, Jembatan harapan, Memorial Hall, dan masih banyak lagi. Selain itu, kamu juga bisa melihat foto-foto, artefak, serta miniatur yang menggambarkan betapa dahsyatnya bencana tsunami ketika melanda Aceh serta daerah sekitarnya.

Belajar Kebencanaan

Tak hanya dibawa untuk mengenang peristiwa tsunami, kamu juga bisa mendapatkan pembelajaran berharga ketika berkunjung di Museum Tsunami Aceh ini. Memang salah satu tujuan dibangunnya museum ini yaitu sebagai media edukasi masyarakat tentang kebencanaan seperti gempa dan tsunami.
 
Jika kamu ingin menambah pengetahuan tentang bencana, kamu bisa menuju ke lantai 3 museum. Disini terdapat banyak sekali informasi tentang bencana yang dikemas apik, melalui display dan simulasi modern. Kamu juga bisa pergi ke perpustakaan museum, yang berisi buku-buku tentang bencana.

Hunting Foto

Banyak dari wisatawan yang berkunjung ke Museum Tsunami Aceh ini, juga sekaligus berburu foto. Di museum ini, kamu akan disajikan banyak sekali objek menarik yang bisa kamu potret. Salah satu spot menarik yang sering digunakan berfoto yaitu adalah Jembatan Harapan, serta kolam yang berisi banyak ikan dibawahnya.
 
Selain itu, kamu juga bisa mengabadikan miniatur-miniatur dimuseum, serta artefak-artefak bersejarah ketika terjadinya tsunami. Tak sedikit pula wisatawan yang berfoto selfie dimuseum ini. Karena keindahan museum, tempat ini juga sering digunakan untuk berfoto prewedding. Jika kamu memiliki drone, kamu bisa juga mengabadikan kemegahan museum dari udara.

Harga Tiket dan Jam Buka Museum Tsunami Aceh

Untuk memasuki museum ini, wisatawan tidak dikenakan biaya alias gratis. Museum dibuka untuk umum setiap hari mulai pukul 09.00 – 16.30 WIB.

Tips Berwisata di Museum Tsunami Aceh

  • Jika kamu masih trauma dengan bencana tsunami, maka jangan masuk museum lewat lorong Space of Fear.
  • Berhati-hatilah ketika berada di lorong Space of Fear, karena baju dan kepalamu bisa basah terkena air.
  • Berhati-hatilah ketika berada di Space of Confuse, karena jalannya berkelok dan tidak rata.
  • Tetaplah jaga kelestarian museum, serta jangan merusak fasilitas, ataupun koleksi didalamnya.
  • Jagalah kebersihan, dan jangan membuang sampah sembarangan didalam museum.

Comments

More in Banda Aceh

To Top