Pidie – Untuk Anda yang hoby traveller serta penggemar kopi untuk memberi stamina?, kopi kocok khas Pidie pas disaji untuk Anda.

Untuk beberapa traveller serta sekalian hoby berburu kuliner, baiknya dianjurkan untuk berkunjung serta mencicipi segera kopi latte khas Pidie punya Basri AR. Pasalnya, disana kita dapat nikmati situasi sajian istimewa ” Kopi Kocok ” yang telah tenar di masa 1980-an dengan situasi kehidupan orang-orang di perkampungan.

Biasanya warung kopi di Aceh di kenal dengan design merk cafe komplit dengan style khas furniturnya. Tetapi, warung-warung kopi di pedalaman Pidie ini tampak begitu simpel.

Warung tanpa ada dipasangi papan nama ini cuma berkonstruksi papan serta pilah-pilah bambu terdapat di Gampong Sukon Lhong Beuah, Kecamatan Delima, sekitaran 15 km. dari Kota Sigli, Kabupaten Pidie.

Satu diantara warga setempat, M. Jhony menyampaikan, kopi kocok jadi sajian istimewa untuk orang-orang Pidie pada pagi hari. Hal semacam ini dipercaya kopi latte khas Pidie yang digabung sedikit kopi serta teh ini dapat mensuplai daya penambahan.

” Meunyoe bak kamoe di sinoe kopi kocok nyan dikheun arti ” podding ” (bila untuk kami di sini kopi kocok itu diistilahkan sebagai ” podding “), ” tutur M. Jhonny pada mediaaceh waktu didapati awal Desember 2016 lantas.

M. Jhonny menjelaskan, rutinitas warga di sini kerap menikmatinya waktu mendekati subuh hari.

Menurut dia, warga orang-orang yang sebagian besar sebagai petani serta pedagang ini meminum kopi kocok itu sebagai konsumsi gizi penambahan.

Hal semacam ini jadi satu kebiasaan yang turun temurun beberapa pemuda setempat yang hoby berburu kuliner. Bila persediannya habis, warga di sini ikhlas menyebrangi kampung samping untuk nikmati secangkir kopi kocok itu.

” Makajih banleuh Suboh sampai poh 8 beungoh ramee that ureueng teudeuk bak warong jak jep kupi kocok (maka dari itu setelah Subuh sampai jam 08 : 00 WIB sangat banyak warga di sini nongkrong di warung kopi nikmati kopi kocok), ” tutur M. Jhonny lagi.

Disamping itu, Basri AR sebagai yang memiliki warung memaparkan sedikit rahasia bagaimana caranya penyajian kopi latte khas Pidie yang dapat menggoyang lidah pencinta. Mengenai menu yang dihidangkan salah satunya sebutir telur ayam kampung digabung dengan sedikit kopi serta teh.

” Saya ambillah telur kuningnya saja, sesudah dikocok serta ditambah sedikit gula, saya campur dengan sedikit kopi serta sedikit teh yang telah mendidih. Hal semacam ini mempunyai tujuan memberi citra rasa serta aroma khas kopi supaya tak berbau amis, ” tutur Basri AR.

Basri menjelaskan, warung kopi kepunyaannya telah berdiri mulai sejak th. 1970-an. Tetapi sajian kopi kocok khas kepunyaannya itu telah mulai dikenalkan mulai sejak th. 1990-an. Dulunya, warung kopi itu punya Teungku Aceh ini cuma berupa warung kopi umum yang cuma menghidangkan kopi saring serta teh.

” Jadi mulai sejak beliau (Teungku Aceh) wafat sekitaran th. 1980-an, saya mulai mengelolanya serta mulai menghidangkan kopi kocok, ” tutur Basri AR.

Basri AR bercerita, kopi kocok itu mulai di kenal di masa 1990-an waktu sebagian warga menginginkan nikmati satu gelas kopi yang digabung telur ayam kampung. Hal semacam ini mempunyai tujuan untuk memberi konsumsi stamina serta tenaga ekstra. Lama kelamaan, Basri mulai berinisiatif bikin resep rahasia supaya citra rasa kopi serta telur ayam makin nikmat serta harum. Pada akhirnya kopi kocok ini makin di kenal warga hingga jumlah keinginan dari hari ke hari makin bertambah.

Nah, untuk Anda yang menginginkan coba nikmati satu gelas kopi latte khas Pidie itu cukup merogoh kocek Rp 5000 saja.

M. Jhonny menjelaskan, warung kopi punya Basri jadi saksi biru sejarak perseteruan bergejolak di Aceh. Pasalnya, warung kopi yang terdapat di bantaran kali Reubee ini jadi tempat nongkrong favorite kelompok eks kombatan GAM waktu perseteruan berkecamuk di Aceh. Hal semacam ini karena tempatnya terdapat di daerah pedalaman yang dibentengi bukit-bukit serta pematang sawah yang luas.

Seingat M. Jhonny, warung ini pernah berkunjung sebagian tokoh eks GAM senior seperti Jamal Buraq, Arjuna serta Robert.

” Bahkan juga saat itu, Mualem (Muzakir Manaf-red) waktu bergerilya disini sempat juga berkunjung kemari. Begitu halnya beberapa eks Tripoli yang lain seperti Pang Reubee serta Tgk Harun (Anggota DPR Aceh), ” katanya lagi. [mediaaceh.co]